DEMAM HALO

Perhatikan!

Jika Anda setiap hari bepergian baik ke kantor, antar jemput anak sekolah, ke pasar de-el-el, pasti akan banyak menemui hal-hal yang menjengkelkan. Salah satunya adalah perilaku pengguna jalan.

Pengendara roda dua dan roda empat sering menggunakan telepon seluler. Kadang untuk menerima telepon atau malah menerima, membaca dan membalas SMS sambil jalan. Pengemudi angkot tak mau kalah set, halo-halopun sambil ‘nyetir’.

Ada pengalaman menarik, setelah sekian lama tak bepergian jauh dengan kendaraan umum,  ada stiker yang menempel di dinding sebuah bus AKAP yang berbunyi  “demi keselematan, laporkan bila sopir bus memakai HP selama dalam perjalanan ke nomor 0815xxxxxxx”, ternyata baru saja jalan keluar terminal sudah ‘halo-haloan’.

Pengalaman saat pulang ke Purworejo tiga tahun yang lalu, sepulangnya dari Purworejo menuju Bogor dengan bis Sumber Alam AC Bisnis,  sering sekali sang ‘pilot’ menjawab panggilan telepon. Karena saya duduk di bangku terdepan sebelah kiri, kutangkap sekilas dari nada bicaranya sang ‘pilot’ kalau dia sedang ‘yang-yangan’.

Setali tiga uang alias sami mawon dengan pengguna kendaraan bermotor roda dua, dengan santainya bak di ayunan tepi pantai berhalo sambil nyetir montor. Kadang dengan handset di tempelkan di helm.

Sama juga dengan para pejalan kaki yang dengan asyiknya berhalo-halo sambil menyeberang jalan.

Padahal jika menyadari itu, bahaya yang mengintip sangat besar dan peluang terjadinya kecelakaan sangatlah tinggi, yang akan merugikan semua pengguna jalan.
Jika kita tidak hati-hati dan bijaksana-bijaksini teknologi ini bisa seperti pisau tajam yang melukai diri kita.  Sudah banyak korban akibat kelalaian penggunaan alat komunikasi ini.

Teknologi Ponsel saat ini penyebaran sangat luar biasa. Dengan bentuk layanan bervariasi, baik teknologi operator selulernya maupun teknologi fitur-fitur handsetnya.

Bahkan, perangkat komputer dengan kelebihannya sudah bisa di katakan tergantikan dengan Ponsel yang ‘High End’.

Kembali ke belakang, perkembangan ponsel yang sempat  ku ingat adalah:
Era 90an, pemakai teknologi ini masih terbatas pada pebisnis, dengan ciri pemakai yang mobile sehingga setiap saat bisa di hubungi dari manapun. Harga sebuah kartu perdana saja harus merogoh kocek dalam-dalam, apalagi harga handsetnya.

Era 2000, sudah tidak menjadi monopoli para pebisnis, tapi sudah menyebar ke segala lapisan masyarakat, sampai tingkat yang paling bawah. Bak kacang goreng, seratus ribu lebih dikit bisa bawa pulang ponsel lengkap dengan kartu perdana.
Sayang, perilaku saudara-saudara kita kadang belum bisa & mau tertib terkait dengan lat ini.

Menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: