DENGAN ATAU TANPA, SAMA SAJA

Tiga tahun terakhir aku pergi pagi pulang petang di temani kuda Jepang kesayangan. Jam enam tigapuluh pagi berangkat dari rumah di Bogor ke tempat kerja di bilangan Ciputat, Tangerang. Rute yang kulewati jalan Sholeh Iskandar-Salabenda-Kemang-Parung-Sawangan-Bojongsari-Cinangka-Pamulang-Ciputat. Menjelang jam tujuh malam biasa aku pulang. Rute pulang sebaliknya dari keberangkatan.  Tiga tahun jua mataku mendapati kenyataan, bahwa banyak sekali saudara-saudara kita yang berangkat dan pulang dari aktifitas menggunakan jasa angkutan umum. Beruntunglah bila saudara kita mendapatkan tempat duduk, karena kondisi angkutan umum di negeri kita jauh dari layak, utamanya dalam jam sibuk.

Keadaan ini di perburuk dengan perilaku awak kendaraan umum yang sering memutar balik sebelum jauh dari trayek sesungguhnya. Bagi saudara kita, hal ini sangat merugikan biaya, waktu dan tenaga.

Bayangkan!

Sudah berdiri, berdesakan, jalan lambat dan harus membayar relatif mahal di banding dengan harapan. Sampai setengah perjalanan, kendaraan berhenti dan harus berganti dengan kendaraan lain.

Sebuah lingkaran setan yang sulit sekali di urai pada dunia transportasi publik di negeri kita. Awak kendaraan di kejar setoran oleh toke/ juragan, uang parkir, retribusi, bahkan kalo sedang apes membayar tilang, toke/ juragan harus mengumpulkan setoran untuk bayar kredit ke leasing dan biaya perawatan.

Ahhhh … sambil membayangkan, nikmatnya naik kendaraan murah, nyaman dan aman, aku coba ‘sedikit’ modal nekat untuk berbagi. Cuma tempat duduk di belakang. Toh, bahan bakar yang di ‘makan’  sama.

Berangkat dari rumah, mengantar buah hatiku ke sekolah yang masih kecil. Kadang aku ajak teman sebaya untuk bareng bila satu arah. Insya Allah selamat dan lebih cepat sampai.

Tugas mengantar buah hati usai, segera aku berangkat kerja. Setiap persimpangan dan pemberhentian kendaraan sengaja memperlambat laju kuda, berharap ada saudara yang mau di ajak bareng. Satu-dua orang pertama yang kutemui kaget dan setengah tidak percaya.

“Jangan takut dengan saya Bang, saya orang baik-baik. Kalau mau bareng ayo, kebetulan saya akan ke Ciputat!” Kataku meyakinkan. “Gratis, tak usah membayar” Timpaku lagi.

Akhirnya, saudara tadi percaya dan ikut bareng. Sepanjang perjalanan saya ngobrol. Ternyata saudara itu setengah tak pecaya, setengahnya lagi khawatir saya orang jahat.

“Hahahahaha … Badan saya yang kecil dan mengendarai motor lebih beresiko terhadap tindak kejahatan dari yang di bonceng” Kataku.

Ada rasa  senang dapat berbagi walau hanya membonceng saudara yang berangkat pulang-pergi dari aktifitas. Bahkan, dapat teman, saudara, insya allah pahala pula.

Ayo,  saat pulang-pergi beraktifitas dengan kendaraan pribadi beroda dua/ empat, ajaklah saudara kita yang lama menunggu angkutan untuk bareng. Bukankah dengan atau tanpa membonceng, bensin yang kita keluarkan sama? Namun tetap hati-hati dan waspada.

Bagaimana menurut anda?

2 responses to this post.

  1. Posted by Nazarudin on 04/05/2010 at 10:02 am

    Setuju. Sy juga terkadang melakukannya,karena memang “tambah penumpang atau tidak” biaya “produksi” sama. Ayo, para pejabat yang pake mobil dinas, ajaklah rakyatkecil yang lagi nunggu mobil angkutan umum. Jadikan fasilitas yang dimiliki menjadi ladang ibadah!

    Balas

    • Mari kita bangun rasa peduli dan galang rasa berbagi dengan hal-hal kecil yang telah lama hilang dari atmosfir sosial masyarakat kita!
      Setuju kang!
      Hingga kini saya masih terinspirasi oleh semangat Kang Nazar, dalam keadaan lelah sekalipun.
      Terima kasih telah berkunjung dirumah maya dan salam untuk keluarga.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: