JALAN MULUS

Sudah lebih dua tahun jalan yang kulewati kondisinya rusak, boleh di bilang kalo ini penyakit kanker stadium empat. Terjadi saja hujan, air akan meggenang, nah jika begini kemacetan langsung datang tanpa di undang. Bapak-bapak petugas yang berseragam sudah ‘kapok’ alias tak mau lagi mengatur lalu lintas di jalan itu. Pantas saja lha pengemudi kendaraan sulit sekali di atur. “Biarkan saja, makan tuh macet”: Mungkin itu yang di ucapkan. Sekilas sederhana penyelesaiannya, apa penyebab jalan rusak, perbaiki, buat saluran air yang benar. Selesai!
Aku Ketawa saja sambil mengumpat. Hahaha … dasar negara kita, rakyat di himbau bayar pajak ini dan pajak itu, Kalau terlambat di denda, contoh :
Bila kita terlambat membayar pajak kendaraan bermotor, sedang jalan tiba-tiba …. pritt … denda, kalo belum membayar PKB,  prittttt  … selamat siang, selamat malem, selamat pagi, selamat sore …  bisa tunjukkan surat-surat kendaraan dan identitas anda? Anda tahu kesalahan anda? geleng-geleng tanda tak tahu. Anda belum membayar pajak, silahkan tanda-tangani surat tilang, atau mau menitipkan biaya tilang?
Nahhhh … perangkap! Waduhhh … Yang lainnya gimana kalo kita mengalami kecelakaan, paling ‘parah’ misal kita babak belur/ jatuh bersama motor di kubangan yang penuh lumpur, sekujur badan penuh dengan lumpur seperti pisang yang di celupkan dalam adonan tepung yang siap di goreng, apakah kita bisa sekonyong-konyong datang ke kantor polisi, kantor PU atau kantor pajak minta ganti rugi? Paling-paling kita akan di kira orang gila, atau  salah alamat mas kalo komplain bukan ke sini!, atau yang paling mungkin sabar saja, makanya kalo jalan hati-hati!
Kapan ya, kita bisa menikmati jalan mulus, jalan rusak!
Aku membayangkan, semua ruas jalan di negeri ini mulus. Jalan yang menghubungkan kampung ke kampung, kampung ke kecamatan, kecamatan ke kabupaten/ kota, kota ke propinsi dan propinsi ke pusat pemerintahan.
Jalan di antar rumah di kampung bukan di semen/ aspal namun di paving blok. Pengaspalan dan cor jalan di larang keras. Karena tanah tidak bisa menyerap dan menyimpan air hujan, pada musim hujan got dan sungai penuh dengan air dan banjir akibat jalan yang di aspal/cor akan memantulkan panas sinar matahari, ujungnya kita jadi sering kegerahan.
Kendaraan yang masuk di larang membawa muatan yang tidak sesuai dengan kapasitas kemampuan jalan.
Jalan yang di perbolehkan di aspal/ di cor hanya jalan raya yang menghubungkan antar kampung, kecamatan, kabupaten/ kota, dan propinsi.
Mungkinkah?
Mungkin.
Bagaimana caranya?
1. Ada niat baik dari semua unsur, kongkalingkong, KKN libas. Proyek berjalan sesuai dengan rencana. Tidak ada dana proyek yang di sunat, apalagi diamputasi.
2. Masyarakat sekitar proyek sukarela menjadi pengawas. Tanpa di bayar, bila terjadi penyimpangan di lapangan laporkan.
“Ahhh … mimpi di siang bolong. Biar saja orang ngomong aku mimpi di siang bolong. Toh kalo ngimpi di malam buta sudah biasa”.
Jika ada jalan yang berlubang, dinas terkait langsung memperbaiki. Tidak ada alasan lagi menunggu dana turun. Dana taktis harus terus tersedia.
Padahal kalau jalan mulus, banyak sekali yang di untungkan, pak rugi jadi pak untung. Orang kerja lebih cepat tiba di kantor, anak sekolah lebih awal tiba, sayur dan buah-buahan tidak cepat rusak, orang sakit cepat tertolong, kendaraan tidak cepat rusak, BBM bisa lebih hemat …
Cape dehhh …!
Bagaimana menurut anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: