MASIH ADAKAH?

Aku rindu pada masyarakat  yang hidup dengan penuh kekeluargaan dan gotong royong, seperti suasana di pedesaan dulu. Persoalan yang menyangkut kepentingan bersama di selesaikan dengan musyawarah dan gotong royong. Membangun jalan, membersihkan makam, membersihkan sumber air bersih bahkan membantu tetangga yang punya hajat pun di lakukan dengan sukarela. Hidup tenteram aman dan damai. Perselihan pendapat tidak jadikan alasan untuk saling melukaI bahkan menyakiti. Namun, perbedaan pendapat dijadikan penguat pilar-pilar gotong royong.

Laksana taman bunga yang dihiasi dengan keragaman jenis bunga. Bukankah keindahan tercipta karena keberagaman? Bukankah sebuah permainan musik akan terasa indah di dengar karena banyaknya instrumen yang di mainkan?
Juga, seperti pertunjukkan wayang kulit, yang di iringi aneka jenis gamelan. Dari yang bernada datar, mendayu-dayu, setengah ‘greng’ sampai yang ‘greng’, bahkan nge-pop.

Namun, masihkah nilai-nilai gotong royong itu masih terpelihara hingga kini?
Aku nggak tahu pasti. Namun yang pernah aku dengar dari beberapa kerabat, gara-gara PILKADES jangankan tetangga, sesama saudara saja bisa ‘perang dingin’. Persoalannya hanya terletak pada perbedaan calon yang di pilih. Ahhh … Aku jadi semakin bingung, apakah ini salah satu pertanda bahwa masyarakat kita saat ini belum bisa menerima setiap perbedaan? Apakah itu sebuah tontonan yang elok bagi anak-anak sebagai generasi penerus?
Aneh! Ada apa dengan PILKADES?

Itu baru PILKADES, bagaimana dengan PILKADA? Perang urat syaraf antar calon dan para pendudukung tak cukup, intimindasi masih kurang, serangan fajar tak mempan.
Seperti yang sering kita lihat, baca  dan kita dengar, karena salah satu pasangan calon tidak menang, pendukung calon ‘marah’ bahkan melakukan tindak kekerasan dan pengrusakkan. Sebuah norma kemasyarakatan telah terlanggar, hanya demi memelihara nafsu.

Akankah anak-cucu  penerus negeri ini akan selalu di warisi dengan kekerasan?
Aku rindu suasana yang tentram, damai, hidup penuh dengan tolong-menolong. Ketika aku kecil, diajarkan oleh orangtua, bila bertemu orang sapalah. Walau cuma sapaan pendek “mau kemanan lek?” atau bila melewati rumah orang pasti ‘nyuwun sewu!” atau ‘nderek langkung!”. Ohhhh … ternyata, itu salah satu cara untuk memecahkan kebekuan dan mempererat hubungan.

Wahhh … Kalo pada ukuran yang lebih besar, PILPRES contohnya. Anda lebih tahu, apa yang sering di pertontonkan media pada saat kampanye. Tendang depan, tendang belakang, sikut kiri-sikut kanan. Jika tak sampai pinjam tangan orang!

Nah lho … Lagi-lagi, bukan pertunjukkan yang elok. Bila masih menjadi calon pemimpin saja berlaku seperti ini, bagaimana kalau sudah menjabat? Jangan-jangan lebih ‘hebat’ pertunjukkannya. Terlebih untuk mempertahankan singgasananya, seperti sinema elektronik saja.

Bagaimana menurut anda?

6 responses to this post.

  1. sepertinya hal macam itu sudah jarang kita jumpai dimana kita tinggal kang,.. kalau di kampung sana(jawa) dikampungku yang namanya gotong royong masih tetap jalan,..

    Balas

  2. semoga … semangat lama yang elok kita rekam sampai dunia berakhir!
    sedih bila kita melihat manusia sudah tak ‘peduli’ lagi dengan sesama dan sekelilingnya.

    terima kasih telah berkunjung.
    salam

    Balas

  3. Mari kita kembalikan keadaan ke masa lalu yang rukun dan damai.

    Mulai dari diri kita🙂

    Balas

  4. marilah kita saling mengingatkan dan saling memberi semangat …
    salam kang!

    Balas

  5. Posted by Rully on 21/05/2010 at 7:43 pm

    Terima kasih sebelumnya sudah berkunjung ke blog saya.

    Postingannya sederhana tapi menarik! I like it..

    Rully

    Balas

  6. terima kasih kembali atas kunjungan balasannya … maaf tak sempat membuatkan kopi panas … hehehe

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: