JANGAN MENYERAH (PART 1)

Sebutlah namanya Yono, anak laki-laki dari keluarga kurang beruntung. Bagaimana tidak, dalam usia 17 tahun, Yono yang tamat SMP begitu tinggi semangatnya untuk bisa melanjutkan sekolah.
Di sekolahnya Yono termasuk anak yang cakap.  Dunia sekolah adalah dunia yang mewah baginya dalam menuntut ilmu. Sebagai anak dari buruh tani, ia sadar. Orang tuanya tak sanggup lagi membiayai sekolahnya. Jangan sekolah untuknya. Untuk biaya hidup dia dan adik-adiknya saja sudah cukup payah. Yono tak menyerah. Ia tetap kobarkan semangat untuk tetap bisa sekolah.

Berbekal ijazah SMP dia hijrah ke Jakarta. Kenapa Jakarta? Baginya Jakarta menyimpan banyak kesempatan. Salah satunya untuk dapat tetap bersekolah. Tekad telah di genggam, semangat telah di kobarkan. Berpamitanlah ia pada kedua orangtuanya.  Minta do’a dan restu, agar cita-citanya tetap bisa sekolah dapat tercapai. Berangkat naik  bis ekonomi dari Bumiayu ke Jakarta. Tak mahal memang, cukup 30 ribu. Namun, bukan perkara murah, 30 ribu dengan susah payah ia kumpulkan  dari upah mengumpulkan kayu bakar dan mencari rumput tetangga. Alamat yang dituju di catat dan diingat betul. Kawasan Pademangan. Pemukiman padat di Jakarta Utara.

Sebuah rumah kontrakan kerabat dekat sangat sederhana. Ukurannya tak lebih dari 4 x 8 meter. Rumah disekat menjadi 3 bagian, ruang depan, kamar dan dapur. Bagian paling belakang ruang dapur dan kamar mand. Pintu masuk berbahan triplek, tak cukup kokoh memang, namun cukuplah untuk sekedar membendung angin malam. Ruang depan  ada sebuah televisi berwarna ukuran 17 inchi di atas sebuah rak kayu. Tidak ada meja-kursi. Penghuni rumah  biasa menonton televisi sambil duduk di lantai tanpa beralaskan tikar. Maklum, walau sudah malam Jakarta tetap saja terasa panas, Beberapa foto hitan putih dan berwarna menempel di dinding,  yang di bingkai dengan kayu. Tembok bagian  depan, ada sebuah jendela dengan kain bekas spanduk PILKADA. Warna cat tembok sudah memudar, pertanda sudah lama. Di ruangan ini pula keluarga biasa menyantap makan bersama. Pada malam hari Yono tidur di sini, beralaskan kasur lipat yang terbuat dari kapas imitasi alias dacron.
Satu-satunya ruang pribadi hanya ruang tidur.

Ke belakang sedikit ruang memasak. Tak cukup luas, berbeda dengan model dapur di kampung sana. Kompor gas sumbangan pemerintah nonkrong di atas dudukan yang terbuat bata merah berbalut semen. Lubang udara tak terlalu luas, namun cukup mengalirkan udara dari dan ke dalam dapur. Beberapa perabot menempel pada dinding dapur, pantatnya hitam. Karena sebelum menggunakan kompor gas keluarga kerabat Yono menggunakan kompor minyak tanah. Lantai dapur terpasang ubin masa lampau, warnanya abu-abu. Bersih dan ‘cukup licin’ karena sering di bersihkan. Di samping kompor ada sebuah rak piring yang berisi piring, gelas, perlengkapan
makan sederhana dan perabot untuk memasak. Kamar mandi ada di sudut ruang dapur, sumber air berasal dari aliran PAM, pada pagi dan sore hari air sering keluar sedikit bahkan kadang tak luar sama sekali. Bak penampungan berupa tabung bekas berbahan plastik warna biru tua.
Kerabat yang di ikuti Yono baru satu tahun menikah , belum di karuniai anak. Sang paman bekerja sebagai tukang ojek sepeda di sekitar Tanjung Priok. Istrinya adalah adik dari Ibu Yono, ia memanggilnya bibi. Bekerja menjaga warung kelontong di pasar tak jauh dari rumah.

Hasil bekerja suami istri lebih dari cukup untuk biaya hidup dan sedikit menabung. Walau hidup ‘susah’ mereka tetap bersyukur atas nikmat yang di berikanNYA.

*****

Perbedaan suasana desa dan kota mau, tidak mau, terpaksa atau tidak, mengharuskan Yono menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.  Serangan nyamuk tak kalah seru pada malam hari. Nyamuknya banyak, besar dan gigitannya … pedas. Rasa panas siang hari membuat badan kegerahan. Seolah sang surya terlalu dekat dengan bumi. Tekad untuk maju mengalahkan rasa panas dan serangan nyamuk.

*****

Sudah seminggu Yono menumpang, pekerjaan belum juga di dapat.  Hingga Sabtu sore seorang tetangga memberitahu, jika sebuah perguruan tinggi swasta tempatnya bekerja membutuhkan tenaga cleaning service. Yono tertarik dan bersemangat sekali namun ia tak paham apa cleaning service? Apa pekerjaannya? Sang tetangga menjelaskan dengan sekenanya. “cleaning service itu tukang bersih-bersih, mulai dari  nyapu, ngepel, membersihkan kaca de-el-el” katanya. Yono manggut-manggut, wahh ini sih pekerjaan ringan, pikirnya. Karena di Indramayu,  ia sudah terbiasa bantu orang tuanya bekerja, menyapu halaman, membersihkan piring, mencari rumput, bahkan memanen padi. “Tempatnya jauh gak, Bang?” Kata Yono. “Nggak jauh, di Salemba, dari sini naik 2 kali”. “Besok hari Seniin berangkat bareng, bawa surat lamaran sekalian!” kata sang tetangga. “Bang, ngomong-ngomong, nama abang siapa?” kata Yono. “Saya Sahroji, panggil saja Oji” jawabnya. “Baik, bang … terima kasih” kata Yono dengan logat jawanya kental.

*****

Asa baru di depan mata …. (bersambung)

12 responses to this post.

  1. Semangat harus senantiasa ada di hati dan jiwa kita🙂

    Dahsyat

    Balas

    • Betul Kang Achoey … Wah yang selamat bersiapa-siap neh!
      Salam,

      Balas

      • Oh ya, sekitar 10 hari ke depan bahkan mungkin lebih, ada kemungkinan kegiatan blogwalking saya terhambat atau bahkan mungkin tidak sempat. Tapi insyaallah selama 10 hari ke depan, tiap hari sekitar jam 08.01 WIB ada postingan baru karena saya sudah menyiapkannya dan menggunakan sistem skedul. Semoga sahabat berkenan meramaikannya dengan meyempatkan diri berkunjung ke sana. ngarephehe.com😀

  2. Posted by Usup Supriyadi on 22/05/2010 at 6:17 pm

    menyerah tidak ada dalam kamus seorang pejuang! jangan menyerah, menyerah adalah langkah setan!

    ***
    saya suka dengan ceritanya, apakah ini kisah nyata?

    jika pun fiksi, tapi sangat bagus . Teruskanlah…..

    Balas

    • Betul kang Usup, hanya seorang pejuang yang kuat yang bisa ‘nabung’ semangat!
      Aha … bukan, ini kisah seorang teman dari keponakan (dimodif sedikit) … Namun agak miriplah sedikit, hehehe!
      Terima kasih telah kunjung …

      Balas

  3. jangan menyerah,, kita harus fight…

    Balas

    • Betul … semangat terus, tetap fit and fight spirit …
      Terima kasih atas kunjungannya, maaf tak sempat butakan teh manis … hehehe Salam semangat!

      Balas

  4. Posted by untungkalimantoro on 24/05/2010 at 10:31 am

    Ass. Wr. Wb
    Alhamdulillah… masih bisa ketemu di dunia Maya…
    Kapan yach… bisa ketemu tuk silaturohim…

    Pa Untung Kalimantoro
    B45

    Balas

    • Wa’alaikumsallam Wr Wb
      Syukur … Sedang di gagas bersama teman-teman, mohon do’anya agar silaturahmi ‘akbar’ segera terwujud!
      Terima kasih telah berkunjung.
      Salam untuk keluarga Pak!

      Balas

  5. Subhanallah….

    nice poet kang, semangad dan tekad kuat yang patut ditiru🙂

    salam

    Balas

  6. Posted by darahbiroe on 25/05/2010 at 9:52 am

    smoga
    aku juga sellu memiliki smngatttt
    jangan menyerah jangan menyerahhhh
    😀

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: