AWALNYA HANYA SATU!

Entahlah … sudah berapa ratus bahkan berapa ribu batang yang telah kunikmati.  Yang pasti, aku menikmati batangan berisi racun secara ‘gerilya’ sejak 1995,  saat pengawasan orang orang tuaku lengah.

Sempat aku mengingatnya. Tahun 1988, kawan sebaya di desa sudah candu dengan batangan ini. Setiap bertemu pasti batangan ini tak lepas dari isapannya. Pussss … kepulan asap putih keluar dari bibir dan hidungya. Rohman … Ya namanya Rohman. Kain sarung di selempangkan pada bahunya.  Aku hanya memperhatinkannya. Rasa sebel sempat menghampiriku. Apa sih  nikmatnya menghisap batangan beracun? tanyaku dalam hati. Hingga suatu ketika aku muak  melihat orang yang menghisap batangan ini.

*****
Diam-diam saat orang tuaku tak ada dirumah, ku ambil batangan ini. Crek … jess, aku  nyalakan batangan ini dengan korek api batangan. Sekali hisap Eghhhkk … eghhkk, aku terbatuk-batuk. Entah karena apa, sudah tahu batuk. Namun, aku lanjutkan hisapan demi hisapan. Tak sampai habis, batangan pertama tersisa tak sampai setengahnya.

Ahhh … hanya coba-coba pikirku. Ingin tahu, apa sih rasanya batangan ini. Hehhh … batangan ini tak ada rasanya. Hanya pahit di mulut dan kadang membuat batuk-batuk kecil.  Sedikit rasa cengkeh dan nggak tahu apapun itu. Anehnya itu hanya terjadi di awal-awalnya  saja. Selanjutnya aku menjadi penikmat batangan ini lagi-lagi dengan sembunyi. Jumlahnya juga sedikit, satu minggu hanya satu kali. Malam minggu biasa nongkrong bersama teman  sebaya. Kuberanikan diri untuk ‘tampil’ dengan gaya baru. Menghisap batangan beracun. Ada sesuatu yang tak nampak, namun terasa. Aku telah menjadi laki-laki sesungguhnya dengan menghisap batangan beracun. Ahhhh …. Itu hanya perasaanku saja.

Aku sadar, aku tak sanggup melawan lingkungan yang penuh dengan orang-orang yang menghisap batangan beracun. Arusnya begitu kuat. Sangat kuat. Kata mereka, selesai makan bila tak menghisap batangan beracun tak nikmat. Apalagi pagi dan sore hari. Menikmati kopi tak  lengkap tanpa batangan ini.

******

Tak banyak memang, satu bungkus bungkus berisi 12 batangan bila di hisap sendiri paling cepat habis tiga hari. Bila rata-rata sehari aku hisap 4 batang,  aku mencoba hitung :

Jika aku mulai merokok aktif sejak usia 19 tahun, 12 batang di habiskan dalam tiga hari.  Pada Usiaku yang 37 tahun aku sudah habiskan :

4 batang x 30 hari = 120 batang/ bulan. Dalam satu tahun 120 batang x 12 bulan = 1440  batang. Maka dalam usia 37 tahun,  1440 batang pertahun x 18 tahun = 25. 920 batang.

Edaaannnnnnn … aku sudah habiskan sebanyak ini! Wahhhh … ini enggak main-main!

Aku coba hitung berapa rupiah yang aku buang sia-sia:
Dalam satu bulan 10 bungkus x 12 bulan x 18 tahun = 2160 bungkus x harga rata-rata 7.000,- = 15.120.000,-!

Ahhhh tidakkkkkkkkkk …!

Aku harus berhenti dari sekarang. Tapi di depanku masih ada satu batang terakhir … !

Akankah aku hisap batangan ‘terakhir’ itu?

14 responses to this post.

  1. selamat sore….

    izin berkunjung…
    untung saya sudah berhenti merokok pak…

    Balas

  2. Posted by hellgalicious on 25/05/2010 at 6:52 pm

    hentikan aja bang
    ga ada gunanya ngisep rokok
    lebih baik ga merokok deh

    Balas

  3. Posted by Adi on 26/05/2010 at 4:27 am

    Dhentikan saja pak. ,
    asa umur 21 thn, tp tdk merokok.XD
    soalx udah tw resikox,
    bahkan bpk sy melarang keras sy merokok, walau beliau perokok. .

    Balas

  4. sebaiknya segera hentikan, dan jangan dekati lagi, alihkan ke hal lain yang lebih bermanfaat

    Balas

    • terima kasih atas dukungan dan sarannya. memang … mengalihkan perhatian dari kebiasaan butuh ‘energi lebih’ … untung ada media ini. daripada di bakar lebih baik bayar warnet … hehehe!
      salam,

      Balas

  5. chayo mas…. dah da keinginan tuk berhenti, lanjut gan..

    Balas

  6. Salam kenal sob.
    Kunjung awal.

    Dihentikan sob isap racune. .
    Alhamdulillah sy bisa berhenti tahun ’98.

    Kalau aku bisa, kamu juga bisa kan? *Thing. .

    Balas

  7. semangat, pasti banyak yang setuju dan mendukung niat baik ini

    Balas

  8. terima kasih telah bekunjung mas budi … dan terima kasih juga atas dukungannya!
    salam.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: