TAHUN AJARAN BARU

Ujian akhir nasional SLTA, SMP dan SD telah usai. SLTA bahkan sudah mengumumkan kelulusan. Berturut menyusul pengumuman
kelulusan SMP dan SD. TK juga sebentar lagi mengantar alumninya untuk melanjutkan ‘perjalanan’ selanjutnya. Persinggahan demi
persinggahan tempat menimba ilmu terlewati sudah. Tangga  berikutnya jenjang yang lebih tinggi. Pasti setiap orang tua
menginginkan semua yang terbaik bagi putra-putrinya. Termasuk urusan pendidikan.

*****
Yang memiliki anak masih TK dan akan masuk SD, sudah siap-siap. Akan di masukkan kemana sang buah hati. Apakah cukup SD Negeri
yang gratis karena dapat dana BOS, SD Negeri Favorit, SD Swasta biasa  atau SD Swasta yang favorit, tentu yang ada
embel-embel favorit pasti biayanya melangit. Apakah sekolah favorit identik dengan mutunya? Entahlah … Selayaknya semua
sekolah adalah favorit bagi anak-anak kita. Ahhh … kita sudah ajarkan dunia yang di kotak-kotak sejak dini rupanya.

Aroma tahun ajaran baru sudah mulai mengharum. Kantor kelurahan, kecamatan dan catatan sipil ramai di kunjungi warga yang
akan menyekolahkan anaknya. Rupanya mereka berduyun-duyun mengurus akta kelahiran anak, sebagai salah satu syarat masuk TK
dan sekolah dasar. Toko kain yang menjual bahan seragam memasang promosi menyolok. Tukang jahit penuh dengan pesanan baju dan
celana seragam. Pun toko buku. Rayuan di lancarkan, dengan iming-iming diskon dan hadiah tertentu. Padahal bila tak
tergesa-gesa, bisa dapatkan harga lebih murah dengan kualitas sama di kios pinggir jalan. Itulah hebatnya rayuan maut
komersil. Tak mau kalah, pengelola mal juga membuat acara khusus. Dengan tajuk “Bazar kembali ke sekolah!”.

*****
Kembali ke jaman kolonial belanda, yang boleh sekolah hanya kaum ‘bangsawan’ dan anak para juragan. Tak jauh berbeda dengan
sekarang, yang boleh sekolah hanya anak yang meiliki orang tua dengan cukup uang untuk biaya sekolahnya. Bagaimana bila anak
itu pandai, namun orang tuanya tak mampu?  Ahhh sudah … jangan melebar kemana-mana. Cukup!

******
Tidak? Tidak semua sekolah milik pemerintah mudah di ‘tembus’. Banyak prasyarat yang mesti di penuhi. Misalnya :
1. NEM Minimal …
2. Membayar bangku sekian Rupiah
3. Sanggup membayar SPP sekian  Rupiah
Bila salah satu saja prasyarat tidak di penuhi maka gagalah di sekolah negeri.

Ya. Hampir semua bahkan bisa di katakan semua. Pun sekolah swasta favorit. Syaratnya hampir sama atau lebih tinggi. Jadi
akhirnya semua aspek yang berhubungan dengan kebutuhan masyarakat berlaku hukum penawaran dan permintaan. Sekolah, Rumah
sakit, Angkutan umum, kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan, sembako (jelas), Wahh muaasihhh banyak lagi ….

Bagaimana menurut anda?

One response to this post.

  1. Pertamax😉

    Saya jadi ingat adik saya yang mau masuk SMA, lagi bingung juga mau skul dimana🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: