JANGAN MENYERAH (PART 1)

Sebutlah namanya Yono, anak laki-laki dari keluarga kurang beruntung. Bagaimana tidak, dalam usia 17 tahun, Yono yang tamat SMP begitu tinggi semangatnya untuk bisa melanjutkan sekolah.
Di sekolahnya Yono termasuk anak yang cakap.  Dunia sekolah adalah dunia yang mewah baginya dalam menuntut ilmu. Sebagai anak dari buruh tani, ia sadar. Orang tuanya tak sanggup lagi membiayai sekolahnya. Jangan sekolah untuknya. Untuk biaya hidup dia dan adik-adiknya saja sudah cukup payah. Yono tak menyerah. Ia tetap kobarkan semangat untuk tetap bisa sekolah.

Berbekal ijazah SMP dia hijrah ke Jakarta. Kenapa Jakarta? Continue reading “JANGAN MENYERAH (PART 1)”

Iklan

LAYANAN SAMSAT KOTA BOGOR

Hari Kamis lalu, aku mengantar kawan ke kantor Samsat Kota Bogor, yang terletak di jalan Ir. H. Juanda (dekat dengan Kantor Kejaksaan). Keperluannya, membayar pajak motor. Kawan tadi membeli motor seken di sebuah dealer di Cisaat, Sukabumi dua tahun yang lewat.
Waktu menunjukkan pukul 08.30, kami bergegas ke loket pendaftaran. Antrian yang menunggu panggilan sudah cukup banyak. Tiba giliran kami, saya sampaikan ke petugas loket. Keperluannya adalah membayar pajak, sebagai syarat SNTK, salah satunya KTP pemilik pertama. Namun karena KTP pemilik pertama tidak ada, di sarankan balik nama atas nama kawan tadi. Petugas menunujukkan loket yang harus di tuju.
Di loket balik nama/ mutasi, kami dapatkan syarat-syarat yang harus di lengkapi:
1. Photo copy identitas yang masih berlaku pemilik saat ini 3 lembar
2. Photo copy BPKB kendaraan 3 lembar
3. Photo Copy STNK 3 lembar
4. Kwitansi asli pembelian di kendaraan, tertempel materai 6 ribu rupiah.
5. Bukti cek fisik kendaraan dan nomor mesin yang telah di gosok oleh petugas samsat.
Layanan photo copy tak jauh dari tempat cek fisik kendaraan. “Bang, photo copy untuk mutasi ya!” pintaku. “Ya …” Jawabnya singkat. Rupanya si abang tukang photo copy sudah paham betul, jika untuk mengurus mutasi, dokumen apa saja dan berapa banyak. Photo copy persyaratan, sebuah map + selembar kwitansi kosong yang di tempel materai seharga 14 ribu. Biaya photo copy per lembar 500,-. Bandingkan jika anda photo copy di luar, paling mahal 100,- per lembar. Aku sedikit merenung, kenapa mahal? Ooooo … mungkin karena di jaga banyak polisi. Hahh …!

Semua persyaratan telah kami lengkapi, petugas cek fisik menunjukkan loket selanjutnya. Yaitu loket pengarsipan identitas kendaraan. Kami menunggu sekitar 10 menit, petugas berpakaian dinas kepolisian melayani kami. Orangnya sudah berumur, sebentar lagi mungkin pensiun.  “Apa keperluannya ini?” begitu pertanyaan petugas. “Mutasi kendaraan pak, ke kabupaten sukabumi” jawabku. Petugas tadi mencari dan mengambil arsip yang di maksud. ruang penyimpanan arsip mirip ruang perpustakaan. Puluhan rak berjajar rapi. Wuihhh … berapa banyak arsip yang tersimpan di ruangan ini?  Pasti ribuan bahkan jutaan, pikirku.  Tak lebih dari 5 menit petugas kembali ke meja. Ternyata untuk mencari sebuah arsip cepat juga ya?  Petugas mencatat arsip kendaraan yang di keluarkan. Petugas pengarsipan minta bayaran 10 ribu, kami bayar, namun kami tak menerima kwitansi sebagai bukti pembayaran.

Kemudian kami menunggu panggilan dari petugas cek fisik. Agak lama memang. Karena petugas cek fisik motor 1 orang. Sementara yang di cek hari itu puluhan bahkan ratusan jumlahnya. Sekitar 30 menit kami menunggu, akhirnya tiba giliran kami di panggil. “Biaya cek fisik 20 ribu, ongkosnya terserah”
. Lagi-lagi kami bayar, dan lagi-lagi kami tak menerima bukti pembayaran. “Wahh … celah masih lebar neh!” pikirku.

Kemudian kami di tunjukkan ke tenda loket tempat memverifikasi data arsip kepolisian dengan data cek fisik. Petugasnya masih muda, sekitar 25-30 tahun. Berbadan tegap dan sigap. Tak lama, kurang dari lima menit pekerjaan memverifikasi data selesai. Di tempat ini petugas tidak mengutip biaya. Alias cuma-cuma. Lha iya lah … kan sudah menjadi bagian dari pekerjaan dan tanggungjawab. Bukankah sudah di gaji oleh negara?

Bergegaslah kami ke loket mutasi, seorang petugas polisi yang masih muda melayani kami. Semua berkas kami serahkan. Suasana di dalam ruangan mutasi ada 5 orang petugas, semua sibuk. Kami di persalahkan duduk untuk menunggu panggilan. Setelah petugas di ruang mutasi memeriksa berkas, kami di panggil. Petugas memberikan surat jalan sebagai pengganti STNK kendaraan. Biaya yang harus kami keluarkan 300 ribu. Iseng-iseng saya bertanya ke petugas tadi. “Biaya resmi mutasi berapa pak?”. “250 ribu, kan ada berkas yang belum di isi lengkap, yaitu kwitansi pembelian. Jadi maklumlah, ongkos kerja 50 ribu!” kata petugas.
“Tiga minggu dari sekarang datang lagi ya!” begitu pesan petugas. “Ini nomor kontak saya” tambahnya. Petugas itu menuliskan di lembar surat jalan lengkap dengan cap dan nama petugas yang melayani. Lagi-lagi, di sini kami tidak menerima bukti pembayaran. Saat kawan mennyerahkan uang, petugas menyuruhnya untuk memasukkan dalam map yang telah berisi berkas-berkas. Sekitar jam 09.15 urusan hari ini ‘selesai’, namun 3 minggu lagi kami harus kembali …

Kesanku :
1. Secara umum pelayanan makin rapi dan baik, tidak seperti 1 tahun yang lalu yang masih terkesan semrawut.
2. “Pungli’ masih tetap terjadi, di loket tertentu.
3. Pelayanan sudah cepat
4. Ada petugas yang masih sok kuasa, tidak menggunakan tata komunikasi yang kurang baik. Misalnya “mau ngapain!” dengan intonasi tinggi. Akan lebih baik bila “selamat pagi pak, apa yang bisa kami bantu!”

Harapanku:
1. Perbaiki pelayanan.
2. Perbaiki pelayanan.
3. Perbaiki pelayanan.

Karena sebagai sebuah kantor pelayanan untuk masyarakat, mutlak terus perbaiki pelayanan, hapuskan ‘pungli’ bila masih ada biaya-biaya siluman, pasti masyarakat akan terus bernada sumbang.

Bagaimana menurut anda?

MASIH ADAKAH?

Aku rindu pada masyarakat  yang hidup dengan penuh kekeluargaan dan gotong royong, seperti suasana di pedesaan dulu. Persoalan yang menyangkut kepentingan bersama di selesaikan dengan musyawarah dan gotong royong. Membangun jalan, membersihkan makam, membersihkan sumber air bersih bahkan membantu tetangga yang punya hajat pun di lakukan dengan sukarela. Hidup tenteram aman dan damai. Perselihan pendapat tidak jadikan alasan untuk saling melukaI bahkan menyakiti. Namun, perbedaan pendapat dijadikan penguat pilar-pilar gotong royong.

Laksana taman bunga yang dihiasi dengan keragaman jenis bunga. Bukankah keindahan tercipta karena keberagaman? Bukankah sebuah permainan musik akan terasa indah di dengar karena banyaknya instrumen yang di mainkan?
Juga, seperti pertunjukkan wayang kulit, yang di iringi aneka jenis gamelan. Dari yang bernada datar, mendayu-dayu, setengah ‘greng’ sampai yang ‘greng’, bahkan nge-pop.

Namun, masihkah nilai-nilai gotong royong itu masih terpelihara hingga kini?
Aku nggak tahu pasti. Namun yang pernah aku dengar dari beberapa kerabat, gara-gara PILKADES jangankan tetangga, sesama saudara saja bisa ‘perang dingin’. Persoalannya hanya terletak pada perbedaan calon yang di pilih. Ahhh … Aku jadi semakin bingung, apakah ini salah satu pertanda bahwa masyarakat kita saat ini belum bisa menerima setiap perbedaan? Apakah itu sebuah tontonan yang elok bagi anak-anak sebagai generasi penerus?
Aneh! Ada apa dengan PILKADES?

Itu baru PILKADES, bagaimana dengan PILKADA? Perang urat syaraf antar calon dan para pendudukung tak cukup, intimindasi masih kurang, serangan fajar tak mempan.
Seperti yang sering kita lihat, baca  dan kita dengar, karena salah satu pasangan calon tidak menang, pendukung calon ‘marah’ bahkan melakukan tindak kekerasan dan pengrusakkan. Sebuah norma kemasyarakatan telah terlanggar, hanya demi memelihara nafsu.

Akankah anak-cucu  penerus negeri ini akan selalu di warisi dengan kekerasan?
Aku rindu suasana yang tentram, damai, hidup penuh dengan tolong-menolong. Ketika aku kecil, diajarkan oleh orangtua, bila bertemu orang sapalah. Walau cuma sapaan pendek “mau kemanan lek?” atau bila melewati rumah orang pasti ‘nyuwun sewu!” atau ‘nderek langkung!”. Ohhhh … ternyata, itu salah satu cara untuk memecahkan kebekuan dan mempererat hubungan.

Wahhh … Kalo pada ukuran yang lebih besar, PILPRES contohnya. Anda lebih tahu, apa yang sering di pertontonkan media pada saat kampanye. Tendang depan, tendang belakang, sikut kiri-sikut kanan. Jika tak sampai pinjam tangan orang!

Nah lho … Lagi-lagi, bukan pertunjukkan yang elok. Bila masih menjadi calon pemimpin saja berlaku seperti ini, bagaimana kalau sudah menjabat? Jangan-jangan lebih ‘hebat’ pertunjukkannya. Terlebih untuk mempertahankan singgasananya, seperti sinema elektronik saja.

Bagaimana menurut anda?

JALAN MULUS

Sudah lebih dua tahun jalan yang kulewati kondisinya rusak, boleh di bilang kalo ini penyakit kanker stadium empat. Terjadi saja hujan, air akan meggenang, nah jika begini kemacetan langsung datang tanpa di undang. Bapak-bapak petugas yang berseragam sudah ‘kapok’ alias tak mau lagi mengatur lalu lintas di jalan itu. Pantas saja lha pengemudi kendaraan sulit sekali di atur. “Biarkan saja, makan tuh macet”: Mungkin itu yang di ucapkan. Sekilas sederhana penyelesaiannya, apa penyebab jalan rusak, perbaiki, buat saluran air yang benar. Selesai!
Aku Ketawa saja sambil mengumpat. Hahaha … dasar negara kita, rakyat di himbau bayar pajak ini dan pajak itu, Kalau terlambat di denda, contoh :
Bila kita terlambat membayar pajak kendaraan bermotor, sedang jalan tiba-tiba …. pritt … denda, kalo belum membayar PKB,  prittttt  … selamat siang, selamat malem, selamat pagi, selamat sore …  bisa tunjukkan surat-surat kendaraan dan identitas anda? Anda tahu kesalahan anda? geleng-geleng tanda tak tahu. Anda belum membayar pajak, silahkan tanda-tangani surat tilang, atau mau menitipkan biaya tilang?
Nahhhh … perangkap! Waduhhh … Yang lainnya gimana kalo kita mengalami kecelakaan, paling ‘parah’ misal kita babak belur/ jatuh bersama motor di kubangan yang penuh lumpur, sekujur badan penuh dengan lumpur seperti pisang yang di celupkan dalam adonan tepung yang siap di goreng, apakah kita bisa sekonyong-konyong datang ke kantor polisi, kantor PU atau kantor pajak minta ganti rugi? Paling-paling kita akan di kira orang gila, atau  salah alamat mas kalo komplain bukan ke sini!, atau yang paling mungkin sabar saja, makanya kalo jalan hati-hati!
Kapan ya, kita bisa menikmati jalan mulus, jalan rusak!
Aku membayangkan, semua ruas jalan di negeri ini mulus. Jalan yang menghubungkan kampung ke kampung, kampung ke kecamatan, kecamatan ke kabupaten/ kota, kota ke propinsi dan propinsi ke pusat pemerintahan.
Jalan di antar rumah di kampung bukan di semen/ aspal namun di paving blok. Pengaspalan dan cor jalan di larang keras. Karena tanah tidak bisa menyerap dan menyimpan air hujan, pada musim hujan got dan sungai penuh dengan air dan banjir akibat jalan yang di aspal/cor akan memantulkan panas sinar matahari, ujungnya kita jadi sering kegerahan.
Kendaraan yang masuk di larang membawa muatan yang tidak sesuai dengan kapasitas kemampuan jalan.
Jalan yang di perbolehkan di aspal/ di cor hanya jalan raya yang menghubungkan antar kampung, kecamatan, kabupaten/ kota, dan propinsi.
Mungkinkah?
Mungkin.
Bagaimana caranya?
1. Ada niat baik dari semua unsur, kongkalingkong, KKN libas. Proyek berjalan sesuai dengan rencana. Tidak ada dana proyek yang di sunat, apalagi diamputasi.
2. Masyarakat sekitar proyek sukarela menjadi pengawas. Tanpa di bayar, bila terjadi penyimpangan di lapangan laporkan.
“Ahhh … mimpi di siang bolong. Biar saja orang ngomong aku mimpi di siang bolong. Toh kalo ngimpi di malam buta sudah biasa”.
Jika ada jalan yang berlubang, dinas terkait langsung memperbaiki. Tidak ada alasan lagi menunggu dana turun. Dana taktis harus terus tersedia.
Padahal kalau jalan mulus, banyak sekali yang di untungkan, pak rugi jadi pak untung. Orang kerja lebih cepat tiba di kantor, anak sekolah lebih awal tiba, sayur dan buah-buahan tidak cepat rusak, orang sakit cepat tertolong, kendaraan tidak cepat rusak, BBM bisa lebih hemat …
Cape dehhh …!
Bagaimana menurut anda?

POLISI TIDUR

Polisi tidur atau disebut juga sebagai Alat Pembatas Kecepatan adalah bagian jalan yang ditinggikan berupa tambahan aspal atau semen yang dipasang melintang di jalan untuk pertanda memperlambat laju/kecepatan  kendaraan. Untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan bagi pengguna jalan ketingginya diatur dan apabila melalui jalan yang akan dilengkapi dengan rambu-rambu pemberitahuan terlebih dahulu mengenai adanya polisi tidur, khususnya pada malam hari, maka polisi tidur dilengkapi dengan marka jalan dengan garis serong berwarna putih atau kuning yang kontras sebagai pertanda.

Di Indonesia, ketentuan yang mengatur tentang disain polisi tidur diatur oleh Keputusan Menteri Perhubungan No 3 Tahun 1994 tentang Alat Pengendali dan Pengaman Pemakai Jalan, di mana sudut kemiringan adalah 15% dan tinggi maksimum tidak lebih dari 150 mm. Alat pembatas kecepatan ini ditempatkan pada:

  1. Jalan di lingkungan pemukiman
  2. Jalan lokal yang mempunyai kelas jalan IIIC
  3. Pada jalan-jalan yang sedang dilakukan pekerjaan konstruksi

Penempatan dilakukan pada posisi melintang tegak lurus dengan jalur lalu lintas. Bila dilakukan pengulangan penempatan alat pembatas kecepatan ini harus disesuaikan dengan kajian manajemen dan rekayasa lalu lintas.

Akan tetapi polisi tidur yang umumnya ada di Indonesia lebih banyak yang bertentangan dengan disain polisi tidur yang diatur berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No 3 Tahun 1994 dan hal yang demikian ini bahkan dapat membahayakan kesehatan bagi para pemakai jalan tersebut. Karena pemasangan polisi tidur ini tanpa kontrol dan terkesan asal-asalan.

Pasti setiap hari kita jumpai polisi tidur, entah di jalan kampung dan jalan perumahan. Tidak ukuran yang pasti. Setiap berapa meter di perbolehkan di pasang polisi tidur. Pun dengan ketinggiannya. Ada yang malu-malu dengan sedikit gundukan, namun ada juga yang radikal. Bak belahan tengah batang pohon kelapa. Ada lagi yang lebih santun, polisi tidurnya di buat melandai, sehingga saat melewati rasanya seperti di ayun … serrr …

Materinya pun bermacam -macam, ada yang dari semen dan batu, aspal, potongan, belahan kayu, dan potongan besi berbentuk segi empat.
Aku tak memiliki catatan pasti, sejak kapan polisi-polisi tidur ini tumbuh. Yang jelas, pasti ada hubungan antara pemakai jalan terutama motor roda dua dengan warga, terutama anak-anak di sekitar jalan. Banyak pengguna jalan yang ugal-ugalan membuat sejumlah warga berinisiatif menidurkan polisi di tengah jalan sebagai bentuk penghalang untuk menahan laju motor berlari ngibrit.
Satu sisi, polisi tidur efektif menahan laju motor, dua sisi pengemudi motor roda dua yang ‘santun’ teraniaya, tiga sisi bila ada warga yang buru-buru ke rumah sakit atau melahirkan, saat melewati polisi tidur pasti sangat tersiksa.
Karena sering melewati suatu ruas jalan kampung yang terkenal dengan polisi tidurnya, aku iseng-iseng menghitungnya. Jalan raya yang panjangnya tak lebih dari 6 kilometer terpasang lebih dari 65 polisi tidur, dengan berbagai gaya. Gaya Radikal, gaya setengah radikal dan gaya ‘sopan’.

Kadang terdengar nada sumbang tentang polisi tidur.

“Polisi tidur saja menyusahkan, bagaimana kalau bangun? Lebih menyusahkan!

Waduh kok jadi begini siapa yang berhak menertibkan? Bagaimana caranya kita menyikapinya?

Menurut Anda?

SMS NYASAR?

Suatu sore jelang pulang kerja sebuah sms masuk dalam inbox ponsel sahabatku dari nomor yang  belum di kenal. Isinya kurang lebih:

“Bang, saya sudah telat tiga bulan!”.

Tentu saja sang sahabat bingung bukan kepalang. Namun karena sang sahabat sedang bekerja di kantor dan pekerjaan harus selesai sore itu juga, akhirnya hingga lupa oleh sms yang masuk.
Tak seperti biasa, dia pulang kerumah terlambat. Bahkan sang istri menunggu dengan cemas.
Sahabat tadi tak dapat memberikan kabar keterlambatan karena sang istri tak memiliki ponsel.  Seperti biasa, sang istri membukakan pintu dan menjawab dengan senyum manis. Istrinya tipe  yang penyabar, namun sedikit memiliki rasa ingin tahu. Sejenak sang sahabat istirahat minum  teh kesukaannya sambil menonton televisi,  sebelum membersihkan badan dari peluh dan debu yang menempel di badan. Maklum, walau perjalanan dari rumah ke kantor tak jauh,tetap saja peluh  dan debu tak bosan  hinggap karena naik angkutan umum yang selalu penuh.
Merasakan peluhnya telah kering, sang sahabat bergegas mandi dengan air hangat. Sepuluh menit kemudian sang sahabat telah keluar dan berganti dengan baju. Diam-diam istri sang sahabat sengaja melihat isi ponselnya.  Termasuk sms yang masuk ke inbox. Dengan sedikit bernada tinggi, istri sang sahabat bertanya:
“bang, ini sms siapa?”.
Sang sahabat tentu kelabakan menjawab pertanyaan sang istri. Namun dengan sabar, dia jawab:
“sayang, abang juga tidak tahu, siapa pengirim sms itu”.
“Bohong, pantas saja abang pulang terlambat, pasti abang selingkuh!” kata istrinya dengan  nada yang lebih tinggi.

“Bang, jujurlah … siapa pengirim sms itu?”
“Sayang, abang jujur, abang tidak tahu, kamu tahu kan siapa suamimu?”.  Sejak kita kenal, berpacaran dua tahun, kamu tentu paham betul siapa suamimu.
“Ok, aku percaya, tapi untuk yang satu ini, buktikan bahwa abang tak main-main” kata istrinya lagi.
“Baiklah, mari kita buktikan! Bahwa abang tak seperti yang kamu duga” kata sang sahabat.
Akhirnya nomor yang mengirim sms di telpon dengan loudespeaker agar keduanya dapat mendengarkan pembicaraan dengan jelas.
Beruntung, nomor yang dihubungi menjawab.

“Halo, apa kabar dul? Suara seorang pria menjawab panggilan.

“Hai, ini siapa? Apa maksud anda mengirim sms  ke ponsel saya tadi sore?” Kata sang  sahabat dengan nada agak tinggi.

“Masa sih lupa? Aku Agus, teman  kuliah dulu, kita kan pernah
saling memberi nomor ponsel?” Kata sang penjawab telepon. “Sebenarnya aku hanya ingin bercanda, kalau boleh diteruskan, candaku begini:
“Aku sudah tiga bulan telat membayar tagihan PAM, LISTRIK, KARTU KREDIT”. Tolong dong bantu aku! Dengan nada bercanda lagi.
Agus! Agus yang suka bercanda di kampus itu? Yang pernah bikin Ibu Roos dosen cantik merah  padam raut mukanya gara-gara candamu dulu?

“Hahaha … Iya Dul, maaf ya. Kalau candaku tadi berlebihan”. “Sampaikan juga maaf dan salamku untuk istrimu”. Kabari aku ya kalau ada lowongan!

*****
Rupanya sang sahabat lupa menyimpan nomor kontak kawannya.
Sang sahabat geleng-geleng kepala, pun istrinya.
Setelah sang sahabat dan istrinya mendengar langsung pembicaraan dari pengirim sms jadi lega. Ternyata hanya seorang teman yang iseng. Untung, tak membuat keisengan menjadi petaka  bagi keluarganya.
“Sayang, abang pesan, janganlah sekali-kali membuka ponsel abang ya?” Percayalah! Abang tak  akan melakukan hal-hal yang akan melukai rumah tangga ini.
“Iya bang, Maaf ya! Kalau tadi adik sampai sewot, adik percaya kalau abang sayang”

*****

Hampir saja keluarga sang sahabat hancur gara-gara orang iseng, walau isengnya datang dari teman kuliah dulu. Tetap saja, keisengan itu bisa menjadi petaka. Beruntung  sang sahabat dan istriya masih meiliki kejernihan untuk mencari siapa sebenarnya orang iseng itu. Kalau  tidak?

Bisa di bayangkan apa yang terjadi!

PESAN PENDEK

Kadang aku bingung bila ada sms masuk ke inbox ponsel. Isinya disingkat, kata-kata yang di singkat tak lazim. Mbok ya kalau sms itu yang jelas. Kalau harus membuat singkatan yang umum agar sang penerima tak bingung dan lebih buruk lagi, sang penerima tak mengartikan berbeda. Misalnya :

“q br-br spi di jl ry bks, tg q ya”

Aku bingung, apa maksud sms itu,mungkin maksudnya: aku buru-buru sapi di jalan bekas, tanggung aku ya.
Kenapa sms tadi tak di tulis utuh bila maksud sms itu  :
aku buru-buru, baru sampai jalan raya bekasi, tunggu aku ya.

Pesan betu-betul pendek, namun bila tak tepat bisa salah mengartikan.

****

Walaupun karena layar kecil dan bermaksud menghemat karakter, menurutku singkatlah kata-kata yang ditulis dalam sms dengan lazim.

****
Yang menyedihkan lagi, masih banyak pengguna yang masih belum optimal menggunakannya. Sebagai contoh, seorang yang memiliki akun di situs jaringan pertemanan masih saja menggunakan singkatan dalam menulis status, komentar atau bahkan catatan. Padahal, bila pengguna tersebut sedikit saja berpikir sejenak, kenapa tulisan di situs tersebut mesti di singkat padahal layar dan kapasitas memorinya sangat besar, berbeda dengan layar ponsel yang kecil dan memori karakter terbatas dan per pengirimannya di kenakan biaya tertentu. Seyogyanya kebiasaan menulis pesan pendek di ponsel tak perlu di bawa dalam dunia tulis-menulis di jagad maya. Toh tersedia cukup tempat untuk menampung tulisan yang panjang. Seharusnya sebuah tulisan yang enak di baca, namun karena banyak tulisan yang di singkat kemudian membingungkan, yang fatal bahkan bisa berarti lain.

*****
Berkembangnya dunia dan perangkat komunikasi saat ini begitu dahsyat. Didalamnya tak lepas dari peran pengembang software dan hardware, dan tentu saja juga pengguna aplikasinya. Kejadian di suatu negara nan jauh di sana bisa dengan menyebar ke seluruh penjuru dunia hanya dalam hitungan detik. Dunia tanpa batas begitu kira-kira.
Sekali klik bad news dan good news bisa dengan cepat di ketahui.
Namun, masih banyak pengguna yang masih belum optimal menggunakannya. Sebagai contoh, seorang yang memiliki akun di situs jaringan pertemanan masih saja menggunakan singkatan dalam menulis status, komentar atau bahkan catatan. Padahal, bila pengguna tersebut sedikit saja berpikir sejenak, kenapa tulisan di situs tersebut mesti di singkat padahal layar dan kapasitas memorinya sangat besar. Seyogyanya kebiasaan menulis pesan pendek di ponsel tak perlu di bawa dalam dunia tulis-menulis di jagad maya. Toh tersedia cukup tempat untuk menampung tulisan yang panjang. Seharusnya sebuah tulisan yang enak di baca, namun karena banyak tulisan yang di singkat kemudian membingungkan, yang fatal bahkan bisa berarti lain.

Bagaimana menurut anda?

KE PELABUHAN RATU LEWAT CIKIDANG

Bila anda touring bersama bikers, coba pilih jalan alternatif lewat Cikidang. Masuk dari pertigaan seberang Polsek Parung Kuda. Lewat jalan ini Lebih cepat, lebih sepi, pemandangan indah, jalan berkelok kadang naik turun di bandingkan jika anda melewati jalan Cibadak. Bahkan ada bagian  jalan ini yang memutar atau kalau saya bilang putaran sekrup.
Jangan heran bila melewati jalan ini anda akan menemui ratusan hingga mendekati ribuan hektar kebun kelapa sawit, dan beberapa hektar kebun teh peninggalan kolonial Belanda yang masih terawat dengan baik hingga kini.

Waktu tempuh dari Kota Bogor sekitar 2-3 jam dengan kecepatan sedang. Sebelum berangkat anda wajib mempersiapkan motor dalam kondisi prima,karena bila tidak akan mengganggu kenyamanan di jalan. Jangan lupa isi penuh tangki motor anda di sekitar Parung Kuda. Jangan sampai di jalan ini anda kehabisan bahan bakar, karena tidak ada SPBU. Kalau ada bahan bakar eceran, itu juga jauh.

Nah setelah anda tiba, nikmati keindahan pantai ini sambil istirahat.

Pantai ini terkenal indah dan sangat layak kita kunjungi. Selain indah, pantai ini memiliki kelebihan di banding pantai lain di Indonesia. Sekitar pantai rimbun oleh berbagi jenis pepohonan. Di bibir pantai juga banyak tempat restoran yang nyaman, dari yang murah sampai mahal. Tinggal pilih!

*****

Pantai Pelabuhan Ratu memiliki ombak yang sangat kuat, sebab itu berbahaya bagi perenang pantai.

Misteri Nyai Roro Kidul masih menjadi sesuatu yang menarik untuk diketahui masyarakat. Meski ceritanya masih simpang siur, tetapi tak sedikit masyarakat yang mempercayai kebenaran cerita itu. Namun, bagi para nelayan, misteri Nyai Roro Kidul telah menjadi bagian hidup yang turun-temurun dan membudaya.

Tebing-tebing yang menjorok ke pantai diakibatkan karena aliran lava yang berhenti di sini. Konon, salah satu tebing tersebut merupakan tempat Nyai Roro Kidul menceburkan diri ke laut. Alasannya frustasi menghadapi penyakit yang diderita. Ia pun lalu menjelma jadi Ratu Laut Selatan nan sakti mandraguna.
Salah satu bukit itu ada yang dikeramatkan warga lokal. Di sini, terdapat kompleks makam, satu di antaranya dipercaya sebagai makam Nyai Roro Kidul. Pada hari tertentu, makam ramai dikunjungi orang yang ingin menemui Nyai Roro Kidul.
Makam penguasa pantai selatan itu ada di ruangan khusus. Sebuah lukisan besar yang menggambarkan sosok Nyi Mas Ratu Dewi Roro Kidul menjadi penghias ruangan. Ruang ini sendiri didekorasi dengan dominasi warna merah. Di sebelahnya, terdapat makam Eyang Sanca Manggala, Eyang Jalah Mata Makuta dan Eyang Syeh Husni Ali.

Selain pantai Karang Hawu, ada beberapa lokasi lain yang ramai dikunjungi. Sebut saja, pantai Cibareno, Cimaja, Cibangban, Break Water, Citepus Kebon Kelapa dan Tanjo Resmi. Khusus pada pantai yang terakhir, kita bisa melihat istana peristirahatan Presiden pertama negara ini, Sukarno. Istana ini dibangun pada 1960 dan punya panorama yang amat bagus.

Di seputar Pelabuhan Ratu, paling tidak ada sembilan titik lokasi main surfing. Denny Komeng, pemuda lokal yang ikut keranjingan hobi ekstrem ini dengan tangkas menyebut satu per satu. Dari Batu Guram, Karang Sari, Samudra Beach, Cimaja, Karang Haji, Indicator, Sunset Beach, Ombak Tujuh sampai Ujung Genteng.

Untuk urusan penginapan, di sepanjang pantai banyak terdapat penginapan dengan harga beragam dari yang murah dengan fasilitas seadanya sampai hotel berbintang yang menyediakan fasilitas yang lebih memadai.

Atau anda bisa memilih Hotel Inna Samudra Beach yang juga tidak bisa di lepaskan dari banyak mitos yang berkembang di masyarakat sekitar bahkan di Jawa Barat dan Banten, karena hotel berbintang empat yang dahulu sering di kunjungi Presiden RI pertama ini memiliki satu kamar unik yaitu kamar 308 yang menurut cerita pernah di singgahi Nyai Roro Kidul.

Oh ya, bila anda menginap coba juga ikan bakar yang masih segar. Dekat terminal pelabuhan ratu terdapat tempat pelelangan ikan. Pilih jenis ikan yang anda suka, bisa anda bakar sendiri atau di bakar pada warung seafood sekitar TPI.

Bila anda tidak buru-buru, saat perjalanan pulang lewat Cikidang dan cuaca cerah, nikmati keindahan matahri tenggelam di areal perkebunan kelapa sawit. Lebih ajib jika sambil menikmati secangkir kopi atau teh panas.

Selamat menimati keindahan alam …

SI MISKIN TAK BOLEH SAKIT, SI KAYA TAK PUN MAU

“Gunakan masa muda mu sebelum datang masa tuamu
Gunakan waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu
Gunakan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu
Gunakan waktu kaya mu sebelum datang waktu miskin mu
Gunakan masa hidupmu sebelum datang matimu”

Sakit. Sakit apapun. Siapa yang mau? Miskin-kaya, tua-muda, pria-wanita, tak ada yang mau. Dia  datang tak diundang, pulang pun harus ‘di usir’. Rasa sakit yang ringan sampai yang berat. Repot kalau harus di rawat. Pasti!

Bagi orang yang hidup pas-pasan sih ndak masalah, pas sakit ada biaya untuk sewa ruang rawat inap, jasa dokter dan menebus obat. Pas ingin beli ini dan itu, pas ada uang. Bagi orang yang kelebihan kesulitan pasti membingungkan. Biaya dari mana untuk membayar semua biaya. Minimal untuk beli obat jika cukup istirahat di rumah. Lha kalau harus rawat inap di rumah sakit sehat  membayar uang muka/ deposit sesuai ruang rawatnya. Biasa, bila berbekal kartu GAKIN atau ASKES manajemen rumah sakit  terkadang akan bilang ruangan penuh. Sebuah alasan klasik yang sering di dengar seperti lagu yang di putar berulang-ulang di stasiun radio. Pun orang yang sudah sekarat, tak langsung di ambil tindakan penyelamatan namun harus di repotkan urusan bersifat administratif. Wah, bisa keburu tak tertolong nyawanya!

Orientasi rumah sakit  sebagai sebuah lembaga setengah sosial berubah menjadi sebuah lembaga bisnis, orientasi profit. Atas nama biaya operasional biaya jadi mahal. Sama saja RS Swasta- RSU Pemerintah. Memang tak semua RS Swasta dan RS Perintah berlaku seperti itu.

*****

Namun bagi yang pas-pasan, tinggal pilih mau di paviliun apa. Di layani bak nasabah bank kelas premium.

Mungkinkah akibat gaya hidup kelas ‘pas-pasan’ hingga membuat ia sakit. Penyakit menambah, hidup jadi susah!

Sama-sama, si ‘kelebihan kesulitan’ tak mau sakit karena ndak ada biaya, si ‘pas-pasan’ tak mau sakit karena tak bisa menikmati kekayaan. Bayangkan bila kita ‘pas-pasan’, sakit. Makan di takar, ini-itu tak boleh.

Sehat jasmani dan rohani lebih mahal daripada emas-permata. Menurut anda?

….. Opini pribadi …..

Blog di WordPress.com.

Atas ↑